UNILAM Momentum Menghidupkan Kembali “Ruh” Kyai Rifai

Butuh kurang lebih tiga dekade untuk mengubah status Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro menjadi Universitas La Tansa Mashiro (Unilam). Masa yang cukup lama dan pastinya melelahkan. Masa yang memungkinkan secara perlahan meredupkan spirit originalitas dan sedikit demi sedikit memupus ingatan kolektif masyarakat La Tansa Mashiro akan nilai-nilai perjuangan Bapak Pendiri akibat beratnya beban dan tuntutan legal formal administrasi kelembagaan.

Tulisan sangat singkat ini berupaya menawarkan penyegaran dan pembaruan (al-Ishlah wa at-Tajdid) pikiran-pikiran genuine Bapak Pendiri, KH. Drs. Ahmad Rifai Arif (Kyai Rifai), yang kala itu berhasil mendorong lahirnya UNILAM secara embryonnaire. Semoga dapat memperteguh arah perjuangan dan memperkuat eksistensi UNILAM yang hari ini sedang sama-sama kita tempuh.

#

Pendidikan Pondok Pesantren Modern

Sejak kecil, Kyai Rifai hidup di tengah keluarga pendidik. Ayahanda beliau, Abah Qashad Mansur, adalah seorang tokoh pejuang pendidikan di tanah kelahirannya di bilangan Gintung Tangerang. Begitu pula Ibundanya, Hj. Hindun Mastufah, yang setia menemani perjuangan Abah Qashad. Gen pendidikan Islam modernis Abah Qashad ikut membentuk kepribadian dan cara pandang Kyai Rifai remaja.

Selepas menuntaskan pendidikan di Pondok Modern Gontor, pandangan keislaman dan kemodernan Kyai Rifai semakin mantap. Atas dorongan sang Ayah dan dukungan keluarga, Kyai Rifai mendirikan Pondok Pesantren Daar El-Qolam di usianya yang masih relatif muda, 26 tahun (1968). Sebagaimana dicita-citakan sang ayah, pondok yang Kyai Rifai dirikan benar-benar berbasis pada pengalaman pendidikan yang ia enyam di Gontor.

Gontor dikenal sebagai pondok pesantren yang berhasil merevolusi tradisi keilmuan dan watak pondok pesantren di Jawa yang umumnya memberi jarak dengan perkara duniawiyah. Dengan mengusung tema modernitas, Gontor mengubah sistem dan metode pendidikan pesantren menjadi lebih familiar dengan perkembangan zaman tanpa tercerabut dari akar tradisionalitasnya, yaitu tafaqquh fid-din wa tahdzibul-akhlaq.

Begitulah Kyai Rifai. Komitmen keislamannya tidak membatasi dirinya untuk melakukan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan yang sigap menyerap aspirasi publik. Pancajiwa pondok yang tertanam dalam dirinya, terutama jiwa Keikhlasan, Berpengetahuan Luas dan jiwa Berpikir Bebas memberikan ruang besar untuk bermanuver lebih luas di dunia pendidikan pesantren tanpa harus kehilangan jati diri. “Kurikulum dan pengajaran boleh berubah, tapi ruh pesantren tidak boleh berubah”, doktrin “dynamic-stabilism” yang sering beliau ucapkan di hadapan murid-muridnya.

Berselang 22 tahun kemudian, di usianya yang sangat matang, 48 tahun (1990), beliau mendirikan pondok pesantren La Tansa di kecamatan Lebakgedong (dulu Cipanas) kabupaten Lebak. Pondok kedua ini beliau bangun tidak persis dengan pondok pertamanya. Memiliki nama pondok, falsafah pendirian, model pengajaran yang berbeda dengan Daar El-Qolam. Secara administratif menginduk ke Depdikbud (Kemendikbud) dimana SMP dan SMA menjadi program formalnya. Falsafahnya menyeru kepada keseimbangan hidup (tawazun) yang terinspirasi dari QS al-Qashas ayat 77.

Ada beberapa alasan yang mengemuka mengapa beliau tidak mengambil jalan mudah, yaitu mengcopy-paste Daar El-Qolam ke pondok barunya. Salah satunya adalah karakter beliau yang suka berbuat “bid’ah hasanah” dan terbukti relevan hingga sekarang. Ciri orang yang senantiasa mengombinasikan akal sehat (aqlu salim) dan kekuatan mata batin (bashiroh) dalam setiap langkah perjuangannya ada pada sosok Kyai yang bergelar mumtaz ini. Qur’an menyebutnya ulul-albab dan ulul-abshar.

Universitas Berbasis Pesantren

Baru dua tahun jalan pondok pesantren La Tansa resmi beroperasi, Kyai Rifai bergegas tancap gas merealisasikan mimpinya mendirikan perguruan tinggi. Tak tanggung, beliau mengungkapkan niat mendirikan perguruan tinggi sekelas universitas di hadapan komunitas epistemic-nya, bukan institut atau akademi. Beliau beri nama bakal universitasnya sama dengan nama pondoknya yang baru berdiri, La Tansa Mashiro, disingkat UNILAM.

Kampus pertamanya beliau bangun di dalam komplek Pondok Pesantren La Tansa. Gedung yang saat ini bernama Mardhatillah adalah awal mula kelas UNILAM. Kegiatan kuliah perdana, tahun 1993, dilakukan di gedung tersebut. Para guru dan santri La Tansa generasi awal, tahun 90-an, menyebutnya gedung UNILAM sebelum akhirnya berubah nama pada tahun 2000-an menjadi Mardhatillah.

Bukan kebiasaan Kyai Rifa’i memaralelkan projek barunya dengan karya sebelumnya yang berhasil ia bangun. Kali ini tidak ada shifting (pergeseran) paradigm seperti mana terjadi pada Daar El-Qolam ke La Tansa. Kesamaan nama pondok dengan universitas memberikan sinyal integrasi kedua lembaga tersebut. Diduga kuat ada upaya menyinambungkan pendidikan menengah dan tinggi dalam satu konsep pendidikan.

Boleh jadi tafsir di atas sekadar “cocokologi”. Namun konsep pendidikan tinggi yang berbasis pada kultur dan tradisi keilmuan pondok pesantren terbukti nyata dan marak belakang hari dengan istilah “pesantren luhur”, “pondok pesantren tinggi”, “ma’had aly”, dan “universitas berbasis pesantren” di sejumlah daerah. Wal-hasil, dapat dipahami bahwa Kyai Rifai memproyeksikan UNILAM menjadi universitas yang kental dengan kultur pesantren dengan tradisi keilmuannya yang unik.

Kultur pondok pesantren yang dimaksud adalah ada pada kepemimpinan dan kemasyarakatan yang mengintegrasikan kapasitas spirtualitas dan intelektualitas secara bersamaan. Nilai yang hidup (living values) dan berkembang yang melandasi kehidupan bermasyarakat di dalamnya sarat dengan ajaran agama Islam dengan tetap mempertimbangkan lokalitas dan konstitusionalitas.

Adapun tradisi keilmuan yang unik berarti keilmuan yang integral dimana pandangan teologis dan metafisis ikut mewarnai aktivitas akademik dan riset. Wacana integrasi ilmu pengetahuan ini menuntut aktifnya studi kritis terhadap epistemologi sekular. Di banyak kampus Islam, aktivitas ilmiah ini dikenal dengan projek Islamisasi Ilmu Pengetahuan Modern.

Tidak berhenti pada kedua aspek utama di atas, universitas yang berbasis pesantren dalam prespektif Kyai Rifai yang berpikiran islam modernis adalah universitas yang melibatkan diri pada wacana dan isu-isu global. Diskursus kebudayan yang berkembang dikaji dalam konteks peradaban yang lebih luas. Kehadirannya dapat dimaknai sebagai upaya menantang setiap usaha hegemoni dunia Islam dengan cerdas dan bermartabat.

#

Jalan KH. Ahmad Rifai Arif, sebuah Usul Permulaan.

Meski tidak ditakdirkan sebagai putra asli daerah, peran Kyai Rifai membangun Lebak melalui pendidikan tidaklah kecil. Kehadiran Pondok Pesantren La Tansa dan UNILAM yang beliau dirikan sejak dekade akhir ORBA (1990an) di kabupaten Lebak adalah karya nyata yang tak terbantahkan. Belum lagi hadirnya sejumlah lembaga pendidikan yang didirikan putra putrinya dan murid-muridnya yang tersebar di pelosok kabupaten Lebak. Umumnya lembaga-lembaga tersebut berupa lembaga pondok pesantren.

Semua lembaga itu tidak hanya efektif mencerdaskan, namun ikut berperan menyejahterakan kehidupan masyarakat sekitar. Ribuan santri dan mahasiswanya yang sebagiannya berasal dari luar daerah ikut melumasi putaran mesin ekonomi masyarakat lokal. Pengaruhnya secara sosial juga terasa dengan narasi keislaman yang terbuka, akomodatif terhadap perubahan dan berorientasi pada kemajuan.

Atas dasar itu, tidak berlebihan kiranya seluruh civitas pendidikan yang bernasab dan bersanad kepada Kyai Rifai termasuk para simpatisannya di kabupaten Lebak bersama-sama mengusulkan nama KH. Ahmad Rifai Arif kepada pihak berwenang menggantikan nama jalan yang saat ini bernama Soekarno-Hatta. Ruas jalan ini sangat startegis karena melintasi kampus UNILAM dan memintas (bypass road) dari Malang Nengah hingga terminal Mandala Rangkasbitung.

Usulan tersebut sebagai bentuk ajakan kepada pengakuan dan penghargaan masyarakat Lebak dan pemerintahannya akan karya besar Kyai Rifai membangun daerah. Bukan mustahil jika usulan ini tercapai dapat memberikan pesan perjuangan dan pengorbanan bagi generasi muda Lebak dan sekitarnya.

#

Pengalaman beberapa lembaga pendidikan yang lahir dari inisiasi tokoh masyarakat pada perjalanannya mengalami instabilitas dan terpaksa gulung tikar karena pada prosesnya menjauh dari idealisme Sang Pendiri. Biasanya keadaan “hilang arah” ini beriringan dengan limbungnya kepemimpinan generasi berikutnya dalam menjawab tantangan zaman. Kelimbungan ini boleh jadi disebabkan absennya pemahaman yang memadai dan komitmen yang tinggi akan visi dan cita-cita besar Pendiri.

Namun tidak dipungkiri, ada pula lembaga sejenis yang berhasil eksis dan bahkan berkembang pesat dengan cara mencabut dirinya dari akar historis dan filosofis yang dicanangkan Sang Pendiri. Biasanya, kemajuan yang terjadi didorong kekuatan baru yang lebih pragmatis. Idealisme terseret godaan kemajuan yang bersifat materil yang membikin lembaga pendidikan tak ubahnya korporasi. Keadaan “zero sum development” dimana kemajuan yang diraih mengorbankan kualitas keilmuan dan integritas lulusannya.

Kita semua tentunya tidak mengharapkan kedua tragedi di atas terjadi pada UNILAM. Momentum pelantikan rektor dan pegawai struktural UNILAM beberapa saat yang lalu menunjukkan optimisme yang mendalam akan terwujudnya kemanunggalan ide orisinil Pendiri dan proses pembangunan UNILAM ke depan. Optimisme tersebut paling tidak terlihat dalam suasana emosional yang menandakan bahwa amanah besar Pendiri patut diperjuangkan hingga akhir hayat.

Wallahu a’lam bish-showab

Oleh Irman Sulaiman Fauzi

Berbagi ke Sosial Media